Aksi Puasa Pembangunan (APP) sebagai Gerakan Misioner dalam mengembangkan Jati Diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat
GERAKAN BERPENGHARAPAN
Setelah mendalami teks injil Matius 4:12-17), marilah sekarang kita melihat bagaimana hubungan antara teks Kitab Suci dan tema “Gerakan Berpengharapan” dipekan pertama APP ini.
Sebagai bagian dari Gereja Katolik Indonesia, kita mau ‘Berjalan Bersama Sebagai Peziarah Pengharapan’. Dalam perjalanan ini, kita berusaha menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian. Secara konkrit, Gereja Keuskupan Manado telah menegaskan arah peziarahan umat yakni Pengembangan Jati diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat. Arah ini merupakan Visi misioner Keuskupan Manado untuk tahun 2026-2030.
lbarat suatu perjalanan, tahun 2026 menjadi langkah pertama peziarahan selama kurang lebih 5 (lima) tahun ke depan, untuk secara perlahan, bertahap tapi penuh keyakinan mewujudkan visi tersebut. Sekaligus pula di awal tahun 2026 ini, kita memasuki masa Prapaskah yang dicirikhaskan dengan Gerakan Aksi Puasa Pembangunan. Gereja Indonesia mengajak kita melihat Gerakan APP ini sebagai gerakan misioner dalam menghadirkan Pengharapan. Sehingga tepat jika gerakan APP menjadi gerakan misioner Gereja kita.
Marilah kita mengingat kembali ‘Siapa Gereja itu?’ Gereja adalah Persekutuan Umat Katolik, yang mana berwujud paling istimewa dan konkrit dalam persekutuan hidup yang bercorak basis: Wilayah Rohani, Kelompok Kategorial, Stasi. Gereja adalah persekutuan umat dimana kita ada di dalamnya, yakni saya secara pribadi dan sesama umat beriman lainnya yang membentuk suatu komunitas. Dengan cara pandang sedemikian, kita dapat memahami bahwa Gerakan APP merupakan gerakan kita masing-masing bersama komunitas kita.
Sebagai bagian dari komunitas Gereja Keuskupan Manado, kita jadikan visi ini sebagai visi paroki dan persekutuan-persekutuan basis di paroki kita, yakni: Pengembangan Jati diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat. Visi ini menjadi arah dasar semua gerakan kerasulan pastoral kita. Oleh karena itu pula, kiranya tepat jika kita dapat menjadikan Gerakan APP sebagai gerakan misioner kita untuk mengembangkan jati diri dan martabat, dalam persekutuan-persekutuan basis (wilayah rohani, kelompok kategorial, organisasi, stasi) yang berbasis sabda, iman, persaudaraan, kerasulan dan masyarakat.
Gerakan APP melekat erat dengan Masa Prapaskah. APP telah mentradisi sebagai gerakan kita, mulai dari diri pribadi, keluarga, komunitas persekutuan basis, stasi dan paroki. Kegiatan-kegiatan APP yang Konkret sebagai wujud pertobatan, solidaritas, dan keterlibatan nyata dalam kehidupan bermasyarakat. Aksi ini bahkan seringkali dijadikan sebagai tolak-ukur keberhasilan gerakan APP. Apakah memang seperti itu yang diharapkan?
Harapan yang hendak dicapai oleh gerakan APP mesti ditempatkan dalam konteks Masa Prapaskah. Masa ini merupakan suatu peziarahan: perjalanan mendaki Gunung Suci Hari Raya Paskah. Kita diajak untuk mengarahkan hati dan budi pada puncak misteri keselamatan yang dirayakan pada Hari Raya Paskah. Tersirat dalam ajakan ini adanya gerakan perubahan orientasi hidup beriman. Kita diajak untuk melihat kembali perjalanan hidup beriman kita, menyadari dan sekaligus menata kembali jati diri dan martabat kita sebagai umat beriman Kristiani Katolik. Persekutuan kita merupakan Sakramen Keselamatan Allah, artinya, kita menjadi tanda dan sarana persekutuan dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia. Sekaligus juga, kita mengemban suatu misi: menjadi garam dan terang dunia.
Orang-orang Yahudi di zaman Yesus mengalami aneka penderitaan karena mereka dijajah oleh orang-orang Romawi. Dalam situasi yang tidak pasti, namun mereka tetap memiliki dan mewarisi suatu harapan mesianis sebelumnya. Mereka mengharapkan seorang Mesias, Raja, yang akan akan memberikan pembebasan dan kemerdekaan kepada mereka. Harapan yang dinubuatkan, diwartakan dan dinantikan sejak Perjanjian Lama ini dalam proses panjang akan tergenapi dalam diri Yesus. Dalam DiriNya, hidup dan karyaNya, Kerajaan Allah itu mulai, Allah mulai merajai, menguasai hati dan hidup manusia dan menyelamatkan mereka.
Kiranya, kita masih ingat pewartaan pertama Yesus ketika la memulai karya-Nya di Galilea “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Matius 4:17). Pesan dan seruan yang sama ditemukan juga pada pewartaan Yohanes Pembaptis: “Bertobatlah karena Kerajaan Allah sudah dekat” (Matius 3:2), yang berisikan perintah untuk bertobat secara penuh dan mengubah hidup. Perintah ini mengandung suatu kemendesakan, seperti ditemukan dalam teks yang sama dalam injil Markus. “Waktunya telah genap. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” (Mrk. 1:15). Pertobatan adalah syarat dasar untuk masuk menjadi warga Kerajaan Allah. Dengan demikian jelas bagi kita bahwa pengembangan jati diri dan martabat kita sebagai umat beriman memiliki syarat yang fundamental dan hakiki, yakni pertobatan atau Pembaharuan Batin. Semangat ini pun mesti menjadi spirit aktivitas misioner kita, artinya, menjadi suatu proses/gerakan yang berlangsung terus sepanjang hidup. Dalam Masa Prapaskah, gerakan Tobat ini memuat makna yang khas.
Gerakan Tobat mengarah pada 2 hal yang saling terkait erat: (1) membangun tobat pribadi (metanoia) dan (2) membangun kepedulian yang berbelarasa terhadap sesama. Hal membangun tobat pribadi berwujud antara lain dalam bentuk-bentuk: memperdalam pemahaman iman melalui aneka katekese, menyadari dan berusaha meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, bermatiraga dengan puasa dan pantang, berusaha tekun dan setia dalam doa, membaca dan merenungkan Kitab Suci, mengikuti Ekaristi, menyesali dosa dan menyambut sakramen Tobat. Adapun hal membangun kepedulian yang berbelarasa berwujud dalam aksi-aksi nyata, seperti: memaafkan sesama, merawat kebersamaan persekutuan umat, merawat lingkungan alam, kegiatan sosial-karitatif.
Keterkaitan kedua hal di atas menjadi kekhasan gerakan APP. Misalnya terkait ‘derma APP’. Derma ini semestinya merupakan hasil dari gerakan ‘silih’ pertobatan kita. Jika kita berpantang sesuatu hal, maka uang yang kita biasa belanjakan untuk hal itu, kita sisihkan sebagai ‘derma APP’. Maka derma APP bukan hanya sekedar menaruh sejumlah uang dalam amplop, melainkan merupakan hasil dari `‘pengorbanan’ kita melalui puasa dan pantang, untuk didermakan bagi orang lain, khususnya yang kecil, lemah, miskin, terpinggirkan dan difabel (KLMTD).
Dalam hidup ini, kita pun sering merasa seperti perahu kecil di tengah samudra yang luas. Badai persoalan, baik itu masalah ekonomi, kesehatan yang menurun, kegagalan, atau keretakan dalam relasi keluarga, datang silih berganti tanpa peringatan. Saat ombak penderitaan menghantam, mudah bagi kita untuk merasa terombang-ambing dan kehilangan arah.
Namun, pesan sabda Tuhan hari ini mengingatkan kita bahwa kita memiliki sebuah sauh (jangkar) yang luar biasa, yaitu pengharapan. Dalam tradisi Kristiani, pengharapan bukanlah sekadar keinginan agar segalanya menjadi baik, melainkan sebuah keyakinan teguh bahwa janji Allah tidak pernah berubah.
(Tim Kursus Paroki Bunda Teresa Calcutta GPI)