Minggu Laetare, Pastor Valentino Ajak Umat Bersukacita di Tengah Masa Prapaskah

Perayaan Ekaristi Minggu Prapaskah IV atau Minggu Laetare diwarnai pesan sukacita bagi umat Katolik. Dalam misa Minggu, 15 Maret 2026, Pastor Valentino Pandelaki Pr mengajak umat untuk tetap bersukacita di tengah masa pertobatan selama Prapaskah.

Dalam homilinya yang mengacu pada bacaan Injil Yohanes 9:1-41, Pastor Valentino menjelaskan bahwa Minggu Prapaskah keempat dikenal sebagai Minggu Laetare. Ia menyebut istilah Laetare memiliki makna khusus dalam liturgi Gereja Katolik.

“Hari minggu prapaskah 4 kita mengenal Minggu Laetare kalau masa Adven kita mengenal Minggu Gaudete. Kata laetare dan Gaudete ini berasal dari kata pertama antifon pembuka minggu bersangkutan,” jelasnya. Ia menambahkan, Laetare dalam bahasa Latin berarti “bersukacitalah”, yang menjadi ajakan Gereja kepada umat di tengah perjalanan pertobatan menuju Paskah.

Menurut Pastor Valentino, walaupun umat sedang menjalani masa puasa, pantang, dan mati raga, Gereja tetap mengajak umat untuk bersukacita. Sukacita tersebut muncul karena keselamatan yang dijanjikan Tuhan semakin dekat seiring umat berada di pertengahan masa Prapaskah sebelum merayakan Paskah.

Ia juga menekankan bahwa sukacita tersebut lahir dari kerahiman Tuhan yang selalu membuka pintu pengampunan bagi manusia. Tuhan, kata dia, selalu berkenan mengampuni umat yang datang kepada-Nya dengan hati yang bertobat.

Pastor Valentino kemudian mengaitkan pesan itu dengan kisah Injil tentang Yesus yang menyembuhkan seorang buta sejak lahir. Melalui mukjizat tersebut, Yesus membuka penglihatan orang buta itu sehingga ia dapat melihat dunia, sesama, dan Tuhan sendiri.

Namun tindakan Yesus itu justru menimbulkan reaksi dari orang-orang Farisi karena dilakukan pada hari Sabat, hari yang menurut tradisi Yahudi tidak boleh digunakan untuk melakukan pekerjaan, termasuk menyembuhkan orang sakit.

Dalam refleksinya, Pastor Valentino menjelaskan bahwa kebutaan tidak hanya berarti ketidakmampuan melihat secara fisik, tetapi juga ketidakmampuan manusia melihat kasih Tuhan, melihat sesama, bahkan menyadari dosa-dosanya sendiri. “Dosa membutakan mata hati kita untuk melihat kebaikan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sering kali manusia seperti orang Farisi yang merasa sudah melihat dan merasa paling benar, padahal justru hati mereka tertutup oleh kesombongan. Sebaliknya, orang buta yang disembuhkan Yesus justru mampu melihat kebenaran karena mengakui Yesus sebagai Tuhan.

Di akhir homilinya, Pastor Valentino menegaskan bahwa makna Minggu Laetare adalah sukacita karena Tuhan membuka mata hati umat beriman. Di tengah masa Prapaskah, umat diajak menyadari bahwa tujuan pertobatan bukanlah kesedihan, melainkan terang dan kehidupan baru bersama Kristus. “Tuhan tidak ingin kita tinggal dalam kegelapan, tetapi dalam terang sukacita,” pungkasnya.(KomsosGPI)