Aksi Puasa Pembangunan sebagai Gerakan Misioner dalam mengembangkan Jati Diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat
MENUMBUHKAN PENGHARAPAN DALAM PERSEKUTUAN
Kisah Para Rasul 2:42–47 menggambarkan kehidupan jemaat perdana yang hidup dalam kesetiaan pada ajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa (Kis. 2:42). Dalam teologi Katolik, bagian ini dipahami sebagai cerminan awal kehidupan Gereja yang berakar pada iman akan Kristus yang bangkit dan dipersatukan oleh Roh Kudus (Lumen Gentium, art. 4; 9). Jemaat bukan sekadar kumpulan individu, melainkan Tubuh Kristus yang hidup (1Kor. 12:27), diikat oleh iman, sakramen, dan kasih persaudaraan. Kesetiaan pada “ajaran para rasul” menunjukkan pentingnya Tradisi dan Magisterium dalam Gereja Katolik. Iman tidak berdiri atas penafsiran pribadi semata, tetapi diwariskan dan dijaga oleh para rasul dan para penerusnya (2Tes. 2:15). Gereja Katolik melihat hal ini sebagai dasar bagi ajaran resmi Gereja yang tetap setia pada Injil (LG, art. 25).
Kehidupan umat beriman selalu diarahkan oleh Sabda Allah yang diwartakan dan dihidupi (KGK 80–83;. Pemecahan roti yang disebutkan dalam teks ini dipahami oleh Gereja Katolik sebagai cikal bakal Ekaristi (Kis. 2:42.46). Dalam Ekaristi, umat Katolik percaya bahwa Kristus sungguh hadir secara nyata (Yoh. 6:51; KGK 1324). Karena itu, perayaan Ekaristi adalah sumber dan puncak seluruh kehidupan Kristiani (LG, art. 11;). Dari Ekaristi mengalir kekuatan rohani yang memampukan umat untuk hidup dalam kasih dan pelayanan (1Kor. 10:16–17;). Persekutuan dan hidup berbagi yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul juga mencerminkan dimensi sosial iman Katolik: “segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama” dan mereka memperhatikan yang berkekurangan (Kis. 2:44–45). Ini menegaskan bahwa iman harus tampak dalam solidaritas konkret dengan sesama (Yak. 2:14–17).
Gereja Katolik memandang hal ini sebagai dasar bagi Ajaran Sosial Gereja tentang kesejahteraan bersama, solidaritas, dan preferensi bagi kaum miskin (Kompendium Ajaran Sosial Gereja, no. 160–184;). Doa dan pujian yang terus-menerus menjadi napas hidup jemaat perdana (Kis. 2:42.47). Dalam tradisi Katolik, doa pribadi dan liturgi bersama saling melengkapi: “Gereja adalah umat yang berdoa” (KGK 2565). Melalui doa, umat membuka diri pada karya Roh Kudus yang membimbing dan menguatkan (Rm. 8:26). Kehidupan doa yang tekun menumbuhkan rasa hormat dan kagum terhadap kehadiran Allah yang menyelamatkan (Ams. 1:7;). Seperti jemaat perdana, umat Katolik masa kini diajak untuk hidup setia pada ajaran, tekun dalam Ekaristi dan doa, serta solider terhadap sesama, agar kehadiran Gereja sungguh menjadi terang dan garam bagi dunia.
Persekutuan (communio) sebagai hakikat Gereja dan sumber pengharapan, yang dihidupi dalam keluarga dan komunitas basis sebagai communion of communities. Persekutuan merupakan hakikat yang paling mendasar dalam kehidupan Gereja. Gereja lahir dari persekutuan kasih Allah Tritunggal, yakni Bapa, Putra, dan Roh Kudus. Karena itu, Gereja dipanggil untuk mencerminkan persekutuan ilahi tersebut dalam kehidupan umat beriman. Dokumen Lumen Gentium (LG) menegaskan bahwa Gereja adalah Umat Allah yang dipersatukan dalam Kristus dan dipimpin oleh Roh Kudus (LG 9).
Gereja menyebut keluarga sebagai Ecclesia Domestica (Gereja Rumah Tangga). Keluarga menjadi tempat pertama iman diperkenalkan, dijaga dan bahkan diwariskan. Dalam keluarga setiap pribadi belajar mengenal Allah, berdoa bersama, dan berbagi kehidupan dalam kasih. Keluarga bukan sekedar tempat tinggal, tetapi persekutuan yang hidup. Di dalamnya, iman tidak diajarkan terutama lewat kata-kata, melainkan melalui teladan hidup.
Persekutuan keluarga kemudian berkembang dan diperdalam dalam kelompok basis Gereja, yakni wilayah rohani. Dalam konteks wilayah rohani, persekutuan itu menjadi nyata ketika umat saling mengenal dan menerima satu sama lain, saling menopang dalam iman, berjalan bersama dalam suka dan duka kehidupan. Persekutuan yang sejati tidak meniadakan perbedaan, tetapi merangkulnya dalam kasih. Di sinilah Gereja menjadi tanda pengharapan ketika umat yang berbeda latar belakang mampu hidup sebagai satu keluarga Allah.
Ciri khas pesekutuan umat basis adalah persekutuan yang berbasis sabda. Sabda Allah menjadi pusat kehidupan Gereja. Umat senantiasa berkumpul untuk mendengarkan dan merenungkan Sabda Tuhan. Sabda Tuhan yang direnungkan bersama bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk dihidupi dan diwartakan. Dalam persekutan basis, umat belajar melihat karya Allah dalam kenyataan hidup sehari-hari dalam terang Sabda Allah, sehingga dalam perjumpaan dengan Sabda itu tumbulah iman yang semakin dewasa serta kepedulian terhadap sesama. Dalam persekutuan basis, umat dibina agar semakin mengenal dan mencintai Sabda Allah.
Persekutuan Gereja tidak lahir dari kesamaan kepentingan atau relasi sosial semata, melainkan berakar dalam doa. Doa mempersatukan umat di hadapan Allah yang sama dan membentuk hati yang rendah, terbuka, serta siap menerima sesama sebagai saudara. Dalam Kisah Para Rasul, Gereja perdana digambarkan sebagai komunitas yang “bertekun dalam pengajaran para rasul, persekutuan, pemecahan roti, dan doa” (Kis 2:42). Doa dan persekutuan tidak dapat dipisahkan. Tanpa doa, persekutuan mudah berubah menjadi relasi yang rapuh, penuh konflik, dan hanya mementingkan kepentingan pribadi.
Dalam bingkai APP, doa baik pribadi maupun bersama menjadi sumber daya rohani yang menghidupkan persekutuan. Doa menolong umat untuk melihat sesama dengan mata iman, mengalahkan egoisme dan sikap eksklusif, membuka diri terhadap kebutuhan dan penderitaan orang lain. Dengan demikian, persekutuan yang dibangun melalui APP bukan kebersamaan semu, melainkan persekutuan yang bertumbuh dari relasi yang mendalam dengan Allah.
Apa yang dialami oleh Gereja melalui persekutuan, menemukan maknanya yang lebih luas dalam visi Gereja sebagai Communion of communities. Pengharapan tidak dihadirkan oleh individu yang terpisah, melainkan oleh Gereja yang hidup sebagai sebuah persekutuan. Dari persekutuan yang berbasis Sabda Allah, lahirlah Gereja yang sanggup menjadi tanda pengharapan bagi semua orang.
Visi Keuskupan Manado yang menggambarkan arah dan cita-citanya terus mengembangkan diri dalam persekutuan umat beriman. Persekutuan (communio) menjadi landasan bagi seluruh pilar visi ini. Persekutuan berarti juga memberi ruang bagi sabda Allah untuk dihidupi bersama, menumbuhkan iman yang saling menguatkan, membangun persaudaraan yang nyata dan menjadi dasar bagi kerasulan serta perutusan Gereja.
Wilayah rohani, sebagai basis kehidupan Gereja, dipanggil menjadi tempat di mana persekutuan ini sungguh dihidupi, dirawat, dan dikembangkan. Persekutuan sejati selalu bersifat misioner. Gereja yang hidup dalam persekutuan tidak berhenti pada kenyamanan internal, tetapi terdorong untuk keluar dan berbagi kehidupan. Gereja dipanggil untuk menjadi Gereja yang keluar. Persekutuan yang matang melahirkan keberanian untuk bersaksi, melayani, dan menghadirkan Injil dalam kehidupan.
Dalam konteks APP, persekutuan dapat memperkuat daya tahan umat dalam menghadapi tantangan, menumbuhkan kepedulian terhadap kaum kecil, lemah, miskin, terpinggirkan dan difabel serta memampukan Gereja menjadi pembawa pengharapan.
Tema Aksi Puasa Pembangunan, “Gerakan Misioner Gereja dalam Menghadirkan Pengharapan”, mengajak kita meneladani jemaat perdana itu. Harapan lahir ketika umat beriman berani keluar dari diri sendiri untuk berbagi, melayani, dan peduli pada yang lemah (Kis. 2:44–45; Kompendium ASG, no. 160). Gereja menjadi tanda pengharapan saat umatnya menghadirkan kasih Allah secara nyata. Ekaristi yang kita rayakan adalah sumber kekuatan misi itu. Dari meja altar, kita diutus ke dunia untuk menjadi saksi Kristus yang bangkit (LG, art. 11;). Sebagaimana ditegaskan KWI, Gereja Indonesia dipanggil untuk semakin misioner, berakar pada Ekaristi dan berbuah dalam kepedulian sosial (KWI, Arah Dasar Gereja Katolik Indonesia 2021–2025). Maka, di masa APP ini, marilah kita membangun Gereja yang menghadirkan pengharapan: dengan doa yang lebih tekun, puasa yang memurnikan hati, dan aksi nyata bagi sesama. Seperti jemaat perdana, biarlah hidup kita sendiri menjadi kabar gembira bagi dunia (Kis. 2:47).
(Tim Kursus Paroki Bunda Teresa Calcutta GPI)