AKSI PUASA PEMBANGUNAN 2026 PAROKI BUNDA TERESA – CALCUTTA, GRIYA PANIKI INDAH (PERTEMUAN IV)

Aksi Puasa Pembangunan sebagai Gerakan Misioner dalam mengembangkan Jati Diri dan Martabat dalam Komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan dan Masyarakat

MENGHADIRKAN PENGHARAPAN LEWAT AKSI NYATA

Selama tiga pekan terakhir kita telah mendalami Aksi Puasa Pembangunan sebagai Gerakan Misioner Gereja dalam mengembangkan jati diri dan martabat umat dalam komunitas yang berbasis Sabda, Iman, Persaudaraan, Kerasulan, dan Masyarakat. Kita semakin disadarkan bahwa Sabda Tuhan, iman, persekutuan, dan solidaritas tidak berhenti pada permenungan, tetapi harus berbuah dalam tindakan nyata. Pada pertemuan keempat ini, kita diajak sebagai komunitas basis untuk merumuskan dan melaksanakan aksi konkret APP, yang kita kenal sebagai Aksi Nyata. Aksi ini diharapkan menjadi tanda pengharapan Allah bagi sesama manusia dan bagi seluruh ciptaan.

Dalam Surat Rasul Yakobus 2:14-17, kita bisa menemukan kutipan“Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? … Jadi jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati.” Sabda ini menegaskan bahwa iman Kristiani bukan hanya soal apa yang kita yakini, tetapi apa yang kita hidupi dan laksanakan. Iman yang sejati selalu bergerak, keluar dari diri sendiri, dan berbuah dalam tindakan kasih yang nyata.

Aksi nyata yang hendak kita laksanakan merupakan buah dari pertobatan, persekutuan, dan solidaritas yang telah kita dalami dalam tiga pertemuan sebelumnya. Kita telah diajak untuk menyadari jati diri sebagai peziarah pengharapan, menghidupi persekutuan sebagai sumber kekuatan, serta menumbuhkan solidaritas sebagai jantung Aksi Puasa Pembangunan. Kini, kita diajak untuk melangkah keluar dan bertindak, sebab Gereja bukan hanya merenungkan dunia, melainkan hadir dan terlibat di dalamnya.

Aksi nyata bukan sekadar kegiatan sosial, melainkan kesaksian iman. Melalui aksi nyata, Gereja menampakkan wajahnya sebagai Gereja yang misioner, berbelarasa, dan membawa damai. Iman yang hidup selalu menemukan ungkapannya dalam tindakan kasih yang menyentuh kehidupan konkret. Melalui keterlibatan banyak umat, aksi ini menjadi ungkapan kasih yang nyata dan menghadirkan pengharapan di tengah masyarakat.

Hendaknya kita sadar bahwa tindakan yang hendak dibuat sederhana dan realistis serta sesuai dengan kemampuan kita. Tindakan hendaknya dapat menjawab kebutuhan nyata dan bukan sekadar formalitas belaka. Untuk itu pula dibutuhkan langkah untuk mengidentifikasi kebutuhan yang ada. Langkah ini mengajak kita untuk melihat kenyataan yang ada dan sambil melihat kemampuan kelompok barulah kita membuat aksi nyata. Yang terpenting juga, bahwa tindakan yang kita buat harus senantiasa terarah kepada mereka yang kecil, lemah, miskin, terpinggirkan dan difabel (KLMTD).

Bukan soal besar atau kecilnya gerakan itu, melainkan ketulusan dan keberlanjutannya. Aksi nyata yang dapat dibuat dapat menyentuh berbagai aspek kehidupan, misalnya perhatian kita kepada yang sakit, lansia, atau difabel. Dalam bidang ekonomi misalnya pemberian sembako hasil dari pantang dan puasa kita. Berhubungan dengan ekologi, misalnya kerja bakti lingkungan atau aksi peduli ciptaan namun tetap berkelanjutan. Dalam bidang pendidikan kita bisa memberikan perhatian kepada mereka yang kurang mampu. Dalam hubungannya dengan saudara-saudari kita, kita dapat membangun dialog dan kerja sosial lintas iman. Atau, dapat juga kita memberikan perhatian kepada keluarga yang sedalam mengalami masa-masa krisis.

Persekutuan yang hidup melahirkan solidaritas, dan solidaritas yang diwujudkan melahirkan pengharapan nyata. Aksi nyata dalam APP bukanlah akhir, melainkan awal dari gaya hidup baru sebagai murid-murid Kristus. Melalui tindakan kasih yang sederhana namun tulus, Gereja sungguh menjadi sakramen keselamatan dan pelayan kasih Kristus di tengah dunia.

(Tim Kursus Paroki Bunda Teresa Calcutta GPI)