Pastor Angki Runtu Ingatkan Iman Kristiani Berakar pada Kebangkitan

HOMILI MINGGU PRAPASKAH II (1 Maret 2026)

Pastor Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah, Fransiscus Antonio Runtu Pr., mengingatkan umat akan hakekat iman Kristiani yang perlu terus ditata dan diperbarui. Penegasan itu disampaikannya dalam homili Perayaan Ekaristi Hari Minggu Prapaskah II, yang berlangsung pada 1 Maret 2026.

Dalam homilinya, Pastor yang akrab disapa Pastor Angki ini menjelaskan bahwa dalam tradisi Gereja Katolik, Minggu Sengsara berada dalam rangkaian Pekan Suci, mulai dari Perjamuan Terakhir hingga Kebangkitan. Ia menekankan bahwa Masa Prapaskah yang berlangsung 40 hari sebelum Paskah bukan sekadar soal puasa, melainkan persiapan iman menuju perayaan utama, yakni Kebangkitan Kristus.

“Bukan puasanya yang penting tetapi Paskah. Paskah itu adalah pemuliaan karena iman Kristiani kita hakekatnya adalah kebangkitan yang kita rayakan pada malam Paskah,” tuturnya. Ia menambahkan, selama Masa Prapaskah umat diajak untuk merenungkan kembali Baptis sebagai perjanjian dengan Allah, yang menjadi dasar hidup iman setiap orang beriman.

Pastor Angki juga mengingatkan bahwa penghayatan akan Baptisan tidak hanya dihadirkan saat kematian atau liturgi duka, melainkan harus terus diupayakan dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, Masa Prapaskah menjadi momentum untuk menata ulang relasi dengan Allah melalui refleksi, retret, dan pembaruan iman.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Masa Prapaskah bukan semata-mata soal pengumpulan dana Aksi Puasa Pembangunan (APP). “Masa Prapaskah bukan soal kumpul dana APP. Bukan seolah-olah diukur dari berapa banyak yang terkumpul,” tegasnya. Ia mengajak umat agar dana APP benar-benar berasal dari pengorbanan nyata melalui puasa dan pantang, bukan dari kelebihan yang tidak dirasakan sebagai pengorbanan.

Menurut Pastor Angki, akan lebih bermakna jika umat menahan diri dari belanja atau kesenangan sehari-hari, lalu hasilnya disisihkan untuk APP, meski dalam jumlah kecil. Tindakan tersebut menjadi wujud solidaritas dan aksi nyata dari puasa serta pantang yang dijalani selama Masa Prapaskah.

Menutup homilinya, Pastor Angki kembali mengingatkan bahwa melalui Baptisan, umat diangkat menjadi anak-anak Allah. Ia menegaskan bahwa iman Kristiani adalah iman yang merdeka, sehingga praktik puasa dan pantang dalam Gereja Katolik menuntut tanggung jawab pribadi di hadapan Allah. “Apakah kita rindu memandang wajah Allah dan mau menata kembali iman pengharapan kita,” pungkasnya.(KomsosGPI)