Visi Paroki Bunda Teresa – GPI 2026-2030, Mengembangkan Jati Diri dan Martabatnya

Pastor Fransiscus Antonio Runtu Pr., memaparkan visi Paroki Bunda Teresa Calcutta Griya Paniki Indah 2026-2030 yaitu, “Mengembangkan jati diri dan martabatnya dalam komunitas yang berbasis sabda, iman, persaudaraan, kerasulan dan masyarakat.” Hal itu diungkapkannya dalam  rapat Pleno Paroki, Jumat 16 Januari 2026 di Koki Teterusan Café & Resto.

Pastor Angki mengungkapkan visi mengembangkan jati diri dan martabat mengacu pada visi Keuskupan Manado.

“Jati Diri: membangun identitas sebagai Persekutuan umat Allah yang dipanggil untuk menjadi terang dan garam dunia. Martabat: Persekutuan Umat merupakan sakramen keselamatan dan pelayan kasih Kristus di tengah dunia.Ini merupakan tiga Gerakan yaitu Communio, Participatio dan Misio,” papar Pastor Fransiscus Runtu.

Lanjutnya Komunitas Berbasis Sabda diantaranya liturgi sabda dalam perayaan ekaristi dan perayaan sakramen, ibadah sabda, pendalaman kitab suci dan kegiatan katekese menjadi sarana utama untuk membentuk umat yang mengenal dan mencintai Firman Tuhan.Untuk menunjang itu perlu penguatan/peningkatan Lektor dan Pemazmur. peningkatan keterampilan pemimpin ibadah, pembawa renungan, penyiapan tim fasilitator pendalaman Kitab Suci.

Komunitas-komunitas umat basis menjadi tempat konkret penghayatan sabda : didengarkan, direnungkan, diwartakan, dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari.Pertemuan Rutin Umat Basis diisi dengan pendalaman Kitab Suci, selain ibadah sabda, juga penyiapan bahan-bahan pendalaman Kitab Suci untuk Umat basis. Penguatan tim kursus pastoral dan seksi katekese,” ungkap Pastor.

Pastor Angki menjelaskan, komunitas berbasis iman diisi dengan perbendaharaan iman dijaga, dipahami, dihidupi dan diwartakan dengan kebanggaan dan sukacita. Pendidikan iman melalui keluarga, sekolah Katolik, komunitas basis, komunitas kategorial menjadi prioritas. Untuk itu perlu penyiapan tim fasilitator pendalaman Iman. Pertemuan Rutin Umat Basis diisi dengan Pendalaman Iman, selain ibadah sabda dan Kitab Suci. Penguatan Kelompok Kategorial dalam Pendalaman Iman.

“Komunitas berbasis persaudaraan yaitu persekutuan persaudaraan antar umat dan antara umat dan gembalanya yang diwarnai relasi yang inklusif, partisipatif, dan penuh kasih.Diantaranya perayaan pelindung Wilayah Rohani dan kelompok kategorial sebagai ruang perjumpaan umat. Menciptakan kegiatan-kegiatan kebersamaan yang melibatkan partisipasi sebagian besar umat/keluarga. Serta menciptakan ruang/tempat perjumpaan umat,” jelasnya.

Lebih lanjut Pastor menjelaskan, persaudaraan yang bersifat Katolik dan terbuka bagi relasi ekumenis dan dialogis antar umat beragama dan kepercayaan lain, dan antarbudaya.Makanya perlu mengidentifikasi kerjasama-sosial dengan penganut agama lain.

“Komunitas berbasis kerasulan dan masyarakat maka semua umat beriman kristiani, secara khusus kaum awam diberdayakan untuk menjadi pelaku utama kerasulan di bidang keluarga, sosial, politik, ekonomi, pendidikan, dan budaya. Untuk itu kita  perlu menjaga/mengembangkan kebiasaan kerasulan-kerasulan sosial karitatif. Mengidentifikasi kebutuhan beasiswa dan gerakan solidaritas dana duka, serta gerakan dana bergulir.

Rapat pleno ini dihadiri Pastor Rekan Pst. Jan S. Koraag pr, Pastor Neomis Pst. Valentino Pandelaki Pr., DPP pleno, KSB stasi, wilayah rohani dan ketua-ketua kelompok-kategorial.(KomsosGPI)